VrigoNET – Setelah 5 tahun mempopulerkan streaming video berbasis online dan membebaskan para creator untuk berkarya sambil menghasilkan pundi-pundi uang.

Kali ini YouTube sudah memperketat aturan baru seputar tentang periklanan terutama dalam mendaftar menjadi bagian dari YouTube Partner Program.

Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa sebuah akun channel baru diperbolehkan untuk menjadi bagian dari YouTube Partner Program, setelah mendapatkan penonton setidaknya berjumlah 10.000 views.

Kebebasan berkarya memang manjadi slogan YouTube selama menjalani 5 tahun belakangan ini, bahkan platform merah raksasa tersebut menghargai jerih payah para creator dengan menerapkan program monetisasi dengan harapan para creator dapat terus berkembang dengan penghasilan yang ia raih.

Walaupun begitu, ada beberapa orang yang terjun ke dunia YouTube namun bukan tujuan berkarya. Mereka mencuri beberapa video dan mengpublishnya kembali di akun channelnya, dan tentu ini melanggar masalah hak cipta.

Perubahan kebijakan yang dilakukan oleh pihak YouTube tersebut diharapkan dapat mampu membawa harapan kembali bagi para Creator yang ingin terus berkarya, mencari peluang, dan bekerja sama dengan YouTube hingga menyalurkan bantuan dana ditangan yang tepat.

“Jika semuanya terlihat baik, kami akan membawa saluran mereka ke dalam YouTube Partner Program dan mulai menyajikan iklan terhadap konten mereka. Dengan ini akan memastikan pendapatan hanya mengalir kepada kreator yang mengikuti aturan main.” ujar Ariel Bardin, VP Product Management YouTube.

Untuk mempelajari lebih lanjut, Anda dapat melihat Pedoman Komunitas dan Kebijakan Iklan yang diterapkan oleh Google, serta kebijakan baru YouTube Partner Program.

Latar Belakang Munculnya Aturan dan Kebijakan Baru YouTube

kebijakan baru youtube partner
Latar Belakang masalah dan munculnya kebijakan baru YouTube, bisa dibilang karena seputar masalah hak cipta dan munculnya iklan di video-video extrem

Tepatnya pada pertengahan Maret 2017 lalu, para agensi merek Global beramai-ramai untuk menarik iklannya dari platform YouTube. Hal ini disebabkan karena munculnya iklan-iklan yang bertebaran di video-video ekstreme atau tidak pantas untuk dilihat.

Selain penarikan masal yang dilakukan oleh para agensi periklanan, mereka juga menuntut untuk membuat beberapa aturan baru dan lebih kuat serta pedoman yang jelas dalam mengkategorikan konten.

Banyaknya iklan yang bertebaran di saluran dan video-video yang extreme, membuat agensi periklanan merasa bahwa dana yang mereka kucurkan malah bisa membantu pembuatan konten yang tidak layak.

Bahkan dalam blog pribadinya, Phillip Schindler yang menjabat sebagai Direktur Bisnis Google menulis, “Kami menerapkan sistem kebijakan yang sangat ketat perihal di mana iklan harus muncul, pada kebanyakan kasus kebijakan kami dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Tetapi tidak kali ini.”

Schindler juga menjanjikan 3 poin dalam kebijakan periklanan yang baru, pertama Google lebih ketat dalam menyortir video sesuai iklan yang ada, kedua memberi kewenangan lebih pada para pengiklan, dan ketiga meningkatkan transparasi dan visibilitas bagi pengiklan.

Selain itu, Google juga sudah mempersiapkan alat buatan yang berguna untuk meninjau konten yang layak untuk periklanan. Dan dalam waktu dekat ini, alat buatan tersebut akan diluncurkan.