VrigoNETNji Collins Gbah adalah pemuda Afrika yang pertama kali memenangkan Google’s Annual Coding Competition, bahkan uniknya ternyata pemuda yang berumur 17 tahun tersebut berasal dari kampung halaman yang tak memiliki koneksi internet satupun.

Ia tinggal disebuah desa di Bamenda tepatnya di Cameroon Utara, setidaknya ia harus menempuh tujuh sampai delapan jam untuk mengunjungi ibukota Yaonde.

Collins bercerita bahwa untuk mengakses internet, ia harus berusaha keras mengunjungi rumah sepupunya di kota Cameroonian, Yaounde. Karena jarak antara desa dan kota tersebut memiliki jarak yang sungguh jauh yaitu sepanjang 370 km.

Walaupun sangat sulit sekali untuk mengakses internet, Collins tetap berusaha untuk belajar secara odidak mulai dari buku dan online, terutama dalam mempelajari berbagai macam kode dan pemograman.

Berbekal dengan kerja keras mempelajari sistem kerja kode selama 2 tahun, akhirnya Collins mulai memberanikan diri mengikuti Kontes Google Code-In yang terbuka bagi pelajar di seluruh dunia yang berusia 13 – 17 tahun.

Dari 1.300 lebih peserta yang ikut yang berasal dari 62 negara, Collins berhasil menyelesaikan 20 tugas yang mencakup 5 kategori yang diperlombakan Google, tanpa internet dan tempat belajar.

Bersama dengan 34 pemenang utama Google lainnya, Collins akhirnya masuk menjadi salah satu pemenang utama Google.

“Saya benar-benar bangga, ini berarti kerja keras saya (dalam) menyelesaikan banyak kode telah benar-benar lunas.” ujarnya seperti yang diliput BBC.

Nji Collins juga kedapatan untuk mengunjungi dan study tour keliling kantor pusat Google di Silicon Valley selama 4 hari. Mulai dari touring hingga bertemu dan sharing bersama dengan para insiyur Google yang berprofesional.

“Mudah-mudahan saya ingin bekerja di sana suatu hari, jika itu mungkin,” katanya

Sejarah Penutupan Akses Internet di Bamenda

inspirasi nji collins gbah
Salah Satu Aktivis di Cameroon

Menurut sejarah, keputusan pemerintah karena memutuskan akses internet di kampung halamannya Bamenda karena banyaknya para aktivis bahkan para guru dan pengacara yang tidak bersedia bahasa inggris sebagai bahasa resmi negara mereka.

Hingga dengan alasan untuk memberantas berita hoax di media-media sosial, pemerintah menutup akses internet kecuali di ibukota. Belum lagi hidup tanpa komunikasi dan internet, mereka juga harus merasakan derita penutupan akses pendidikan dan sekolah.

Oleh sebab itu, Nji Collins walaupun belum merasakan manisnya pendidikan, ia harus berkorban meninggalkan kampung halamannya ke ibukota agar selalu terkoneksi dengan internet demi mengembangkan kreativitas dan pengetahuan secara otodidak.

“Saya ingin (selalu) mendapatkan koneksi (internet) agar saya bisa terus belajar dan tetap berhubungan dengan Google,” terangnya.

Banyak dukungan yang mengalir mulai dari keluarga dan teman-temannya, bahkan dari orang yang tidak dikenalnya sekalipun. Dan saat ditanya ‘apakah ada dukungan dari pemerintah?’ Nji Collins menjawab “tidak, tidak ada satupun” tegasnya.

Bamenda, sebuah kota dengan 500.000 jiwa, mungkin akan sedikit tabu dengan adanya tenologi, bahkan internet yang sudah kita akui sebagai salah satu bagian dari hidup belum pernah dirasakan oleh sebagian warga di negara-negara Afrika.