VrigoNET – Pernah kepikiran gak sih, jika suatu saat akan ada negara di luar angkasa layaknya di bumi? Nyatanya itu semua bukan lagi mimpi, sebab kini Asgardia akan segera menjadi sebuah negara pertama luar angkasa.

Pencetus berdirinya negara Asgardia adalah Igos Ashurbeyli yaitu seorang ilmuan sekaligus insinyur terkenal asal Rusia. Gagasan ini tentu menarik banyak perhatian tekhususnya bagi ilmuan, insinyur, hingga pebisnis kelas kakap untuk ikut turut andil membangun negara Asgardia.

Walaupun telah mengumumkan bahwa Asgardia akan segera dibentuknya menjadi sebuah negara. Nampaknya negeri diatas awan tersebut masih belum memiliki bendera, lagu kebangsaan, lambang resmi, bahkan bentuk negaranya.

Oleh sebab itu, warga negara Asgardia juga diharapkan dapat membantu dan memberi suara untuk perumusan konstitusi Asgardia nanti. Penduduk Asgardia juga diberi kebebasan yang sebebas-bebasnya dalam berkreasi terutama dalam membuat teknologi apapun.

Dikutip dari situs Asgardia Space dan The Sun, Pemerintah Asgardia akan lebih ketat dalam memilih warga negara atau calon penduduk. Asgardia tidak akan mau menerima warga negara yang pelit dan tidak terbuka dalam membagi informasi data diri kepada pemerintah, serta warga negara non-manusia seperti robot dan hewan juga tak diperkenankan masuk.

asgardia negara pertama luar angkasa
10 Negara yang warganya paling banyak mendaftarkan diri sebagai Asgardian (Warga Negara Asgardia)

Hingga saat ini, setidaknya sudah terdapat 500 ribu lebih orang dari kurang lebih 200 negara telah mendaftar sebagai warga negara Asgardia, dan 200 ribu diantaranya telah mendapatkan sertifikat Asgardian.

Walaupun telah dinyatakan sebagai Asgardian yaitu julukan untuk warga negara Asgardia, orang yang telah mendaftar tetap akan menjadi warga negara asalnya atau memiliki dwi-kewarganegaraan.

Untuk tempat tinggal dan wilayah teritorial, sepertinya Asgardia akan membuat wahana di luar angkasa dengan konsep yang sangat futuristik, layaknya seperti fasilitas-fasilitas di film movie science fiction. Wahana tersebut ditargetkan dapat menampung hingga 150 juta umat manusia.

Jika Anda menganggap ini hanyalah fiksi belaka, namun di pihak Asgardia ini merupakan hal serius dan gak main-main. Pemerintah Asgardia bahkan sampai mengundang arsitek dan ahli antariksa mulai dari Kanada, Rumania, Rusia, sampai Amerika Serikat.

Tujuan Nasional Negara Asgardia

Asgardia dibangun dengan tujuan dapat menjadi ‘Pelindung Bumi’, contohnya dari berbagai ancaman objek luar. Selain itu, dengan adanya Asgardia diharapkan dapat lebih mendalami pengetahuan hingga misterius yang masih belum terungkap di antariksa. Asgardia juga tak ingin menjadi negara yang pelit ilmu

Asgardia juga tak ingin menjadi negara yang pelit ilmu, nantinya Asgardia bersama negara-negara berkembang yang tidak memiliki akses ke luar angkasa akan bekerja-sama untuk saling berbagi mengenai pengetahuan antariksa.

Jika dilihat dari gagasannya memang cukup masuk akal, bahkan Lembaga Antariksa yang Terbaik sekalipun masih belum bisa mengatur satelit di luar angkasa hingga mencegah asteroid yang ingin menabrak bumi. Selain itu, badan antariksa internasional saja masih suka menjadi badan yang tertutup dari publik.

Menurut Ashurbeyli, Asgardia dibangun sebagai bentuk untuk melayani tugas kemanusiaan dan perdamaian di luar angkasa. Ram Jakhu dari tim ahli hukum Asgardia juga mengatakan bahwa visi dari Asgardia jelas untuk kebaikan bumi.

“Visi Asgardia sangat jelas: pertama, membantu melindungi bumi dari serangan ruang angkasa ataupun asteroid. Kedua, membuka akses ke negara yang tak memiliki infrastruktur untuk dapat pergi ke antariksa,” kata Jakhu.

Untuk menjadi negara setidaknya ada beberapa elemen yang harus dipenuhi yaitu berpenghuni, sistem pemerintahan, fungsi negara, serta pengakuan negara-negara anggota PBB. Dan nantinya, Ashurbeyli akan membawa proposal Asgardia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kasus Sengeketa Hukum yang Harus Dihadapi Asgardia

asgardia negara pertama luar angkasa
Igor Ashurbeyli

Selain dihalangi dengan masalah pendanaan dan teknologi, kasus lainnya yang harus dihadapi serius oleh Asgardia ialah Permasalahan Hukum di PBB.

Sebab menurut perjanjian Angkasa Luar PBB tertulis bahwa “angkasa adalah milik manusia dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk seluruh umat. Tak ada satu pihak pun yang bisa mengklaim Bulan, Matahari, dan objek langit lainnya,”

Direktur London Institute of Space Policy and Law yaitu Profesor Sa’id Mosteshar meragukan Asgardia bisa diakui sesuai hukum internasional. “Perjanjian Angkasa Luar, yang diterima siapapun, mengatur dengan jelas bahwa tak ada satu bagian pun di angkasa luar yang bisa diklaim sebuah negara,” ujarnya.

Selain itu, Perjanjian Internasional lainnya yang menjadi pertentangan mengharuskan segala aktivitas di ruang angkasa dilakukan oleh negara, bukan perorangan ataupun swasta. Dan suatu negara kemudian wajib bertanggung-jawab atas kerusakan apapun yang mungkin saja disebabkan peluncur maupun satelit, baik di angkasa maupun di muka Bumi lainnya.

Ini tentu sangat tertolak belakang dengan semangat pemerintah Asgardia yang tidak ingin adanya campur tangan dari negara manapun ke dalam kebijakannya apalagi membentuk negara di luar angkasa.

Belum lagi permasalahan kewarganegaraan yang masih belum jelas aturannya dan pertanggung-jawabannya, akan menjadi tantang lainnya bagi Asgardia.